Saat Rakyat Semakin Geram
Oleh : Muhammad Iqbal
Penulis Adalah ketua Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas
Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang tak lain merupakan produk kapitalisme sebentar lagi akan disahkan. Pemerintah melalui Bambang Sudibyo (Menteri Pendidikan Nasional), beberapa pekan lalu mengumumkannya di media. Rencananya pada bulan januari ini. Semangat tahun baru sepertinya dicederai dengan rencana itu. Rakyat Indonesia yang kini tenggelam dalam hiruk pikuk meriahnya tahun baru 2008 kembali harus merasakan pahitnya kehidupan. Cobaan Tuhan belum usai. Bencana alam kayaknya tidak cukup untuk menguji kesabaran rakyat Indonesia. Cobaan baru datangnya justru dari mereka yang harus menjadi tameng. Rencana pemerintah ini seperti gunting yang datang memutuskan asa rakyat menyambut tahun baru.
Keseriusan pemerintah untuk menggolkan BHP terlihat pada revisi terbaru RUU BHP. Revisi ini adalah yang kesekian kalinya dikeluarkan setelah yang sebelumnya menuai kritik tajan dari berbagai elemen masyarakat. Dan seperti sebelumnya juga, RUU BHP itu tetap saja tertolak dengan sendirinya.
Jika pemerintah mau mendengar, revisi RUU BHP sebenarnya tidak perlu dilakukan lagi. Mereka cukup putar haluan merumuskan kembali kebijakan pendidikan yang lebih humanis. Sebab seberapa kali pun ini direvisi jika rohnya masih tetap sama, tetap akan ditolak.
Sangat naif jika alasan pemerintah selama ini bahwa rakyat (yang menolak) adalah orang awam. Sebab gelombang penolakan berasal dari berbagai kalangan. Baik akademisi (dosen dan mahasiswa) yang telah melakukan kajian ilmiah atas RUU ini, maupun dari masyarakat yang anaknya tidak seklolah karena diskrimnasi. Tak terhitung sudah berapa kali saya ikut dalam diskusi tentang BHP, tak terhitung pula mudaratnya. Contoh konkrit kegagalan penerapan otonomi kampus pada beberapa kampus yang telah berubah status menjadi BHMN harusnya jadi pelajaran untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Sekarang, kesimpulannya sudah jelas. BHP harus ditolak. Tak perlu juga kiranya saya sampaikan alasan penolakan. Sebab saya yakin di kepala kawan-kawan sudah banyak tahu tentang BHP dan berbagai dampak yang ditimbulkannya. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah apa yang harus dilakukan. Apakah kita masih saja diam. Sementara waktu terus bergulir. Mungkin kita masih ingat anonim saat aksi, ”Diam adalah penghianatan,”
Diam ditempat saat peluru mengarah ke tubuh sama artinya bunuh diri. Dan bunuh diri adalah perbuatan yang paling dilaknat Tuhan. Sikap diam sebagian besar kita saat BHP sudah di depan mata mengindikasikan sikap permisif kita yang juga berarti bunuh diri. Makanya, tak ada pilihan lain, tinggalkan semua perdebatan ideologi, bersama menolak BHP.
Lewat tulisan ini saya mengajak kawan-kawan, Bapak, Ibu, dan semuanya yang memiliki kesamaan persepsi tentang BHP untuk bersama bergabung dalam GERAKAN RAKYAT MAKASSAR (GERAM) TOLAK BHP.
Nb: Aksi perdana rabu, 9 januari 2008 kumpul di masjid 45 jam 09.30
DIarsipkan di bawah: Wacana
saat kritik dilarang… suara dibungkam… usul ditolak tanpa ditimbang… hanya ada satu kata: LAWAN…!!!!!!